Tahun Kedua Berkepala Tiga; Hidup Ini Mau Dibawa Kemana?

Pemandangan senja di pantai dengan langit gradasi jingga biru, bulan sabit, dan siluet pengunjung di tepi laut.

Genap dua hari yang lalu aku berumur 31 tahun. Aneh memang rasanya, seakan umurku hanyalah bias angka yang tidak tergapai oleh rutinitas dan kebiasaan yang kujalani hari ini jika dibandingkan dengan yang normalnya dilakukan oleh sebayaku.

Pria melakukan mirror selfie di gym modern dengan latar alat fitness, cermin besar, dan pencahayaan indoor hangat.
Hiduplah untuk hari ini

Untungnya aku sadar hal ini di usiaku yang sekarang, tak perlu lagi risau akan masalah ataupun jenjang kehidupan yang dilalui oleh orang lain. Sekarang aku cukup bijak untuk memilih mana yang memang jadi urusan dan harus aku pikirkan, dan mana yang harus kukasih senyum kecil [slang tongkrongan kuliahku dulu yang artinya cuek aja].

Apresiasi Diri

Foto makanan Pepper Lunch ; Hidangan steak sizzling dengan jagung, tauge, buncis, saus, dan daging di atas hot plate restoran.
Makanan pertama diatas 100ribu sekali makan di umur 30 tahun

Baru tahun ini rasanya aku berani untuk mendobrak rasa nyamanku akan teman yang harus sefrekuensi, tempat kerja yang harus nyaman, deadline yang harus fleksibel, rutinitas yang harus kuatur sendiri. Tapi tahun ini sepertinya tidak ada. Aku harus berpindah tempat, mencari kelompok manusia yang baru yang tak semuanya pastinya cocok, dan mencari ladang yang bahkan sebelumnya tidak ada bekal baik ilmu maupun peralatan untuk menggarapnya, sehingga aku harus membuat cangkulku sendiri di sana.

Sekelompok teman berpose ceria di pantai pada malam hari dengan latar pasir, ombak, dan langit gelap.
Selalu ada cerita bertemu dengan rekan kerja yang baru.

Sehingga, demikian lihainya diriku untuk sampai di titik sekarang adalah hal yang patut aku apresiasi. Mungkin masih banyak salahnya dan belum bisa menghasilkan banyak hal, tapi aku yakin sekarang ini adalah titik yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh diriku yang lampau.

Pria berpakaian hitam berdiri di area outdoor rooftop dengan meja putih, pohon palem, lampu gantung, dan langit mendung.
kemanapun harus tetap tegas dalam prinsip

Kembali ke Diri

Aku tidak akan lagi membebaniku dengan hal yang mungkin hanya menimbulkan ekspektasi dan keniscayaan. Kumulai harapanku untuk bisa melakukan hal yang substantif untuk kehidupanku saat ini. Sehingga apa pun yang sekarang dijalani akan lebih bermakna dan esensial.

Pria berkacamata berdiri bersama ibu berhijab ungu di depan dinding beton sederhana dengan suasana hangat dan natural.
Fokus untuk diri sendiri dan untuk orang tersayang itu mandatory

Hiduplah sepenuhnya saat ini. Aku mulai mengamini kalimat tersebut karena hidupku sudah dibuat letih oleh harapan, planning, goals, atau apalah itu. Goals atau tujuan itu penting jika kita melibatkan orang lain dalam mencapainya. Sedangkan untuk diri sendiri, bukan mengatakan tidak penting, tapi semuanya tampak kurang bisa jadi acuan dan mungkin sekarang akan kuanggap hanya sebagai marka jalan yang hanya jadi isyarat sehingga kita tidak terlalu keluar jalur.

Sekelompok teman berpose ceria di taman hijau setelah berolahraga dengan latar tanaman, bunga, dan bangunan resort.
pilihlah rutinitasmu dan lingkunganmu

Hidup itu cerminan dari rutinitas kecil kita sehari-hari, jika setiap hari kamu lakukan dengan baik, bernilai, dan bermakna, maka kamu tidak akan pernah membenci hidupmu kelak.

Hiduplah Hidup

Pria berkacamata tersenyum melakukan selfie di ruang santai, dengan seorang pria bermain gitar di latar belakang.

Maknai hidupmu secara utuh

Hargai hidupmu secara sederhana

Hiduplah, Nizar


Posting Komentar

Silahkan berkomentar pada kolom komentar untuk bisa saling berdiskusi

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak