Cara Mengatasi Self Block dan Menemukan Arah Karier di Usia 30

ilustrasi pria berpikir tentang karier dan mengatasi self block di usia 30
Ilustrasi Orang yang berhasil Mengatasi Self Block

Kadang gue ngerasa pikiran sendiri itu jadi penghambat terbesar dalam hidup. Bukan karena kemampuan kurang, bukan karena peluang nggak ada, tapi karena terlalu banyak mikir, terlalu banyak ragu, dan akhirnya… nggak mulai-mulai.

Tulisan ini sebenarnya lebih ke reminder buat diri gue sendiri. Tapi gue yakin, kalau lo lagi ada di fase hidup yang sama—bingung arah karier, sering overthinking, atau ngerasa “ketinggalan”—mungkin ini juga bisa relate.


Mulai Dulu Aja, Jangan Nunggu Siap

Salah satu hal yang paling gue sesali di masa lalu adalah terlalu sering nunda. Selalu ngerasa “belum siap”, “nanti aja kalau udah ngerti”, atau “takut gagal”.

Padahal sekarang gue sadar, kesiapan itu nggak datang sebelum mulai—justru datang setelah kita mulai.

Gue udah beberapa kali pindah jalur karier. Dari yang awalnya yakin banget di satu bidang, terus pindah lagi, dan pindah lagi. Banyak orang mungkin lihat itu sebagai ketidakjelasan. Tapi buat gue, itu proses.

Dan dari semua proses itu, satu hal yang paling kerasa: semakin cepat gue mulai, semakin cepat gue belajar.

Nggak harus sempurna. Nggak harus langsung jago. Yang penting jalan dulu.


Goal Itu Harus Jadi Kompas, Bukan Sekadar Keinginan

Dulu gue sering punya banyak keinginan. Mau ini, mau itu. Tapi nggak pernah benar-benar gue treat sebagai tujuan hidup.

Sekarang gue mulai belajar untuk menjadikan goal sebagai “kompas”.

Artinya:

  • Setiap keputusan yang gue ambil, gue bandingin dengan goal gue
  • Setiap aktivitas, gue tanya: “ini bawa gue lebih dekat atau malah menjauh?”

Sebagai career switcher, ini penting banget. Karena tanpa arah yang jelas, kita gampang banget nyasar dan buang waktu di hal-hal yang sebenarnya nggak relevan.

Apalagi di usia gue sekarang, yang udah menginjak 30 tahun. Jujur, ada tekanan. Lihat teman-teman udah settle, karier jelas, income stabil.

Sementara gue? Masih eksplor.

Tapi justru karena itu, gue harus lebih sadar arah. Bukan ikut-ikutan, tapi benar-benar tahu apa yang gue cari.


Mindset Itu Penentu, Bukan Skill

Satu hal yang gue pelajari dari perjalanan pindah-pindah karier: skill bisa dipelajari, tapi mindset itu fondasi.

Kalau mindset kita masih:

  • Takut gagal
  • Takut dinilai orang
  • Takut mulai dari nol

Maka seberapa banyak skill yang kita punya pun nggak akan maksimal.

Gue mulai percaya bahwa setiap orang punya kapasitas untuk jadi “luar biasa” di bidangnya masing-masing. Termasuk gue. Termasuk lo.

Masalahnya bukan bisa atau nggak. Tapi mau atau nggak.

Dan ini relate banget sama konsep yang gue dapet dari buku How to Learn Anything in 48 Hours. Intinya, kita tuh sebenarnya punya kemampuan belajar yang jauh lebih cepat dari yang kita kira—asal kita fokus dan punya strategi.

Gue ngerasain sendiri. Setiap kali gue benar-benar niat belajar sesuatu (bukan sekadar coba-coba), progress-nya jauh lebih cepat.


Gagal Itu Bukan Musuh, Tapi Investasi

Dulu gue takut banget gagal. Bahkan bisa dibilang, itu salah satu alasan kenapa gue sering overthinking sebelum mulai sesuatu.

Tapi setelah beberapa kali jatuh (dan jujur, nggak enak banget rasanya), gue mulai melihat gagal dari sudut pandang yang berbeda.

Gagal itu investasi.

Kenapa?
Karena setiap kegagalan itu:

  • Ngasih data
  • Ngasih pengalaman
  • Ngasih pelajaran yang nggak bisa didapat dari teori

Masalahnya bukan di gagal atau nggaknya, tapi di apakah kita belajar dari situ atau nggak.

Gue pernah ada di fase di mana gue gagal tapi nggak belajar. Dan itu sia-sia.

Tapi ketika gue mulai refleksi, mulai evaluasi, dan mulai memperbaiki approach, di situ gue mulai lihat “return” dari kegagalan itu.


Realita Career Switcher di Usia 30

Gue nggak akan sugarcoat—jadi career switcher di usia 30 itu nggak gampang.

Ada rasa:

  • Tertinggal
  • Nggak percaya diri
  • Overthinking soal masa depan

Apalagi kalau belum nemu posisi yang benar-benar “klik”.

Tapi di sisi lain, gue juga melihat ini sebagai kelebihan:

  • Gue punya pengalaman di beberapa bidang
  • Gue lebih kenal diri sendiri dibanding dulu
  • Gue lebih sadar apa yang gue nggak mau

Dan itu penting.

Karena kadang, menemukan jalan hidup itu bukan soal langsung tahu tujuan, tapi tentang mengeliminasi jalan yang bukan buat kita.


Semua Kembali ke Satu Hal: Jangan Berhenti

Kalau gue rangkum semua yang gue pelajari sejauh ini:

  • Nggak ada yang mustahil, selama kita mau mulai
  • Jangan nunda—action selalu lebih penting daripada rencana sempurna
  • Jadikan goal sebagai kompas, bukan sekadar angan
  • Percaya kalau otak kita mampu belajar apa pun
  • Gagal itu bagian dari proses, bukan akhir dari cerita

Dan yang paling penting: jangan berhenti.

Karena self-block itu seringnya bukan karena kita nggak bisa, tapi karena kita berhenti terlalu cepat.


Penutup: Ini Bukan Tentang Cepat, Tapi Tentang Konsisten

Gue masih dalam perjalanan. Belum “jadi”. Belum sampai tujuan. Tapi sekarang gue lebih tenang.

Karena gue tahu, selama gue terus jalan, terus belajar, dan terus mencoba—gue nggak benar-benar gagal.

Kalau lo lagi di fase yang sama, mungkin kita nggak butuh jawaban besar sekarang.

Cukup satu langkah kecil hari ini. Mulai dulu aja. Sisanya akan mengikuti.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar pada kolom komentar untuk bisa saling berdiskusi

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak